Sunday, April 27, 2008
Wednesday, October 11, 2006
Karena Cinta Ibuku
“Karena Cinta Ibuku……..”
(Sebuah perjalanan menuju cita-cita...)
Bagian 1
“Ibu berangkat dulu, nanti pulang tanggal 25 Juni untuk menjemputmu, siapin aja semuanya, ya. Baik-baik di rumah”. Pamit ibu padaku. Ibu berangkat setelah ku mencium tangannya. Kulihat ibu beranjak meninggalkan halaman rumah dan menghilang di ujung gang.
Ibu pergi ke Tangerang untuk bekerja sebagai pelayan sebuah warung nasi milik haji Usman tetanggaku untuk jangka waktu dua bulan.
***
Sudah seminggu ibu di Tangerang, dan aku tinggal sendiri di rumah bersama bibiku dan dua anaknya yang masih sekolah, sementara adikku berada di rumah nenek sejak dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Adikku seharusnya dia duduk di bangku SMU kelas 1, akan tetapi karena berbagai hal, akhirnya dia lebih memilih untuk berhenti sekolah. Padahal, betapa beruntungnya dia jika dibandingkan denganku. Coba bayangkan saja, pihak sekolahku -adik masuk ke sekolah yang sama denganku- telah membebaskan semua biaya sekolahnya ditambah lagi ada salah satu dari guruku yang mau menjadi orang tua angkatnya. Segala kebutuhan sekolah adikku akan ditanggung beliau, adikku hanya tinggal bilang saja apa yang dibutuhkannya. Sedangkan aku, ketika ingin melanjutkan sekolah pun itu tanpa dukungan dari pihak keluarga. Entah apa yang ada dalam pemikiran adikku sehingga dia lebih memilih putus sekolah. Adikku adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga.
***
Minggu siang, saat itu saya sedang bermain dengan anak-anak tetangga, ketika kedua kakak iparku datang dari Bekasi dan dari Tegal. Kakak pertamaku sudah menikah dan memiliki seorang putri yang baru berusia 4 tahun. Kakak iparku yang pertama bekerja disebuah perusahaan swasta yang memproduksi pestisida. Mereka belum memiliki rumah sendiri, tapi alhamdulillah karena kebaikan bosnya, kakakku sekeluarga diminta menempati salah satu rumah bosnya yang berada di kota Tegal. Kebetulan kakak ipar ditugaskan di Brebes, jadi tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Sementara itu, kakak yang kedua menikah dengan seorang pemuda dari desa tetangga dan dikaruniai seorang putri yang sekarang berusia dua tahun. Kakak iparku yang kedua belum memiliki pekerjaan yang tetap, saat ini dia membantu orangtuanya mengelola kantin di sebuah yayasan pendidikan di kota Bekasi.
“La, disuruh pulang ke rumah, ada a Samud dan a Budi datang tuh..” panggil uak dari halaman.
Lalu aku buru-buru pulang ke rumah. Dan di sana sudah ada kedua kakak iparku, bibi dan uak yang tadi memanggil. Setelah salaman dan menanyakan kabar keluarganya aku duduk bergabung dengan mereka.
“La, katanya kamu diterima di IPB…?” Tanya a Samud.
“ya”. Jawabku singkat.
“Tadi a Samud dan a Budi sudah diskusi mengenai ini, dan terus terang aja kami gak sanggup kalo harus membiayai Lala kuliah. Lala tau sendiri kan, untuk kebutuhan seharí-hari saja kami masih ngos-ngosan. Lagian kan, bukan hanya biaya kuliah saja, tapi untuk biaya kos dan sehari-harinya itu dari mana nanti ¿” papar kakak iparku. Aku hanya diam terpaku.
“Jadi Lala ga usah di ambil PMDK ke IPBnya, yach…Lala harus ngertiin kondisi keluarga kita. Jangan memaksakan hal yang diluar batas kemampuan kita.” Tambah kakak iparku lagi.
“Ga papa kan ga kuliah juga, kamu kan perempuan. Tar bisa cari kerja aja”. Tambahnya pula.
”Tar Lala bisa ikut ke Bekasi aja, cari kerja di Bekasi sama a Budi daripada di rumah ga ada kerjaan mah” tambah kakak iparku yang kedua.
”Ya, kalo memang itu sudah jadi keputusan kakak berdua, saya mah nurut saja” jawabku tenang meskipun sebenarnya dalam hatiku ingin menangis.
”Ga papa kan, La ga kuliah ?” tanya bibiku.
”Ga papa, mungkin bukan rizkinya saya untuk kuliah.” Jawabku lagi. Sudah lulus dari SMA saja sudah bersyukur.
”Iya, lagian kalo kuliah kan yang membiayain kakakmu berdua”. Jelas uak. ”Jadi nanti bilang saja sama ibu, kalo kamu ga jadi kuliah ke IPB”, tambahnya lagi.
”iya”. Aku mengangguk tanda setuju dengan keputusan kakaku. Memang benar apa yang dikatakan kedua kakaku itu, kalo aku kuliah berarti akan menambah beban kedua kakaku.
”Ya udah, kalo begitu semuanya sudah jelas, sekarang saya pamit dulu mau balik lagi ke Tegal” kata a Samud.
”Bukan nanti aja atuh Mud, masih siang ini..itu udah disiapin makan” Cegah bibiku.
”Mau mampir ke tempat bos dulu, sudah janji mau ke sana, takut sudah ditungguin”. Jelasnya.
”Ya, udah atuh, salam aja buat Ceu Wiwi sama Hera. Mungkin minggu depan saya ke Tegal”, ucapku.
“Hati-hati bawa motornya, a, salam buat keluarga” kata a Budi.
“Hayu, atuh semuanya. Assalamu’alaikum” pamit kakaku.
“Wa’alaikumussalam” jawab kami serempak.
Dan motor Honda yang ditumpangi kakak iparku melaju meninggalkan halaman rumah dan menghilang di ujung gang.
“La, a Budi juga mau berangkat ke Bekasi. Nanti kamu ke Bekasi aja, yach...Yuk mih Inoh, uak, saya pamit” pamit a Budi.
“Hati-hati Bud, salam buat keluarga di Bekasi” ucap bibi dan uak.
Akhirnya kakak ipar yang kedua pun pamit dan langsung berangkat ke Bekasi.
Semua jadi hening setelah kepergian kedua kakak iparku, uak kembali ke rumahnya dan bibi kembali ke dapur meneruskan pekerjaannya, tinggallah aku sendiri terpaku di teras rumah. Tatapanku kosong, pikiranku melayang mengikuti asaku yang tadi baru saja diputuskan.
Dalam hati ingin menangis dan menjerit menolak keputusan ini. Tapi apa daya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mataku mulai berkaca-kaca, sedih dan kecewa, tapi harus bagaimana lagi. Akhirnya airmata ini tidak bisa ditahan lagi untuk mengalir, aku berlari ke dalam kamar, kukunci dari dalam dan tumpahlah air mataku di atas bantal tak bisa dibendung lagi. Siapa sih yang tidak sedih kalo keinginannnya untuk meraih cita-cita tidak terpenuhi. Bagaimanapun juga aku punya hati.
(Sebuah perjalanan menuju cita-cita...)
Bagian 1
“Ibu berangkat dulu, nanti pulang tanggal 25 Juni untuk menjemputmu, siapin aja semuanya, ya. Baik-baik di rumah”. Pamit ibu padaku. Ibu berangkat setelah ku mencium tangannya. Kulihat ibu beranjak meninggalkan halaman rumah dan menghilang di ujung gang.
Ibu pergi ke Tangerang untuk bekerja sebagai pelayan sebuah warung nasi milik haji Usman tetanggaku untuk jangka waktu dua bulan.
***
Sudah seminggu ibu di Tangerang, dan aku tinggal sendiri di rumah bersama bibiku dan dua anaknya yang masih sekolah, sementara adikku berada di rumah nenek sejak dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Adikku seharusnya dia duduk di bangku SMU kelas 1, akan tetapi karena berbagai hal, akhirnya dia lebih memilih untuk berhenti sekolah. Padahal, betapa beruntungnya dia jika dibandingkan denganku. Coba bayangkan saja, pihak sekolahku -adik masuk ke sekolah yang sama denganku- telah membebaskan semua biaya sekolahnya ditambah lagi ada salah satu dari guruku yang mau menjadi orang tua angkatnya. Segala kebutuhan sekolah adikku akan ditanggung beliau, adikku hanya tinggal bilang saja apa yang dibutuhkannya. Sedangkan aku, ketika ingin melanjutkan sekolah pun itu tanpa dukungan dari pihak keluarga. Entah apa yang ada dalam pemikiran adikku sehingga dia lebih memilih putus sekolah. Adikku adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga.
***
Minggu siang, saat itu saya sedang bermain dengan anak-anak tetangga, ketika kedua kakak iparku datang dari Bekasi dan dari Tegal. Kakak pertamaku sudah menikah dan memiliki seorang putri yang baru berusia 4 tahun. Kakak iparku yang pertama bekerja disebuah perusahaan swasta yang memproduksi pestisida. Mereka belum memiliki rumah sendiri, tapi alhamdulillah karena kebaikan bosnya, kakakku sekeluarga diminta menempati salah satu rumah bosnya yang berada di kota Tegal. Kebetulan kakak ipar ditugaskan di Brebes, jadi tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Sementara itu, kakak yang kedua menikah dengan seorang pemuda dari desa tetangga dan dikaruniai seorang putri yang sekarang berusia dua tahun. Kakak iparku yang kedua belum memiliki pekerjaan yang tetap, saat ini dia membantu orangtuanya mengelola kantin di sebuah yayasan pendidikan di kota Bekasi.
“La, disuruh pulang ke rumah, ada a Samud dan a Budi datang tuh..” panggil uak dari halaman.
Lalu aku buru-buru pulang ke rumah. Dan di sana sudah ada kedua kakak iparku, bibi dan uak yang tadi memanggil. Setelah salaman dan menanyakan kabar keluarganya aku duduk bergabung dengan mereka.
“La, katanya kamu diterima di IPB…?” Tanya a Samud.
“ya”. Jawabku singkat.
“Tadi a Samud dan a Budi sudah diskusi mengenai ini, dan terus terang aja kami gak sanggup kalo harus membiayai Lala kuliah. Lala tau sendiri kan, untuk kebutuhan seharí-hari saja kami masih ngos-ngosan. Lagian kan, bukan hanya biaya kuliah saja, tapi untuk biaya kos dan sehari-harinya itu dari mana nanti ¿” papar kakak iparku. Aku hanya diam terpaku.
“Jadi Lala ga usah di ambil PMDK ke IPBnya, yach…Lala harus ngertiin kondisi keluarga kita. Jangan memaksakan hal yang diluar batas kemampuan kita.” Tambah kakak iparku lagi.
“Ga papa kan ga kuliah juga, kamu kan perempuan. Tar bisa cari kerja aja”. Tambahnya pula.
”Tar Lala bisa ikut ke Bekasi aja, cari kerja di Bekasi sama a Budi daripada di rumah ga ada kerjaan mah” tambah kakak iparku yang kedua.
”Ya, kalo memang itu sudah jadi keputusan kakak berdua, saya mah nurut saja” jawabku tenang meskipun sebenarnya dalam hatiku ingin menangis.
”Ga papa kan, La ga kuliah ?” tanya bibiku.
”Ga papa, mungkin bukan rizkinya saya untuk kuliah.” Jawabku lagi. Sudah lulus dari SMA saja sudah bersyukur.
”Iya, lagian kalo kuliah kan yang membiayain kakakmu berdua”. Jelas uak. ”Jadi nanti bilang saja sama ibu, kalo kamu ga jadi kuliah ke IPB”, tambahnya lagi.
”iya”. Aku mengangguk tanda setuju dengan keputusan kakaku. Memang benar apa yang dikatakan kedua kakaku itu, kalo aku kuliah berarti akan menambah beban kedua kakaku.
”Ya udah, kalo begitu semuanya sudah jelas, sekarang saya pamit dulu mau balik lagi ke Tegal” kata a Samud.
”Bukan nanti aja atuh Mud, masih siang ini..itu udah disiapin makan” Cegah bibiku.
”Mau mampir ke tempat bos dulu, sudah janji mau ke sana, takut sudah ditungguin”. Jelasnya.
”Ya, udah atuh, salam aja buat Ceu Wiwi sama Hera. Mungkin minggu depan saya ke Tegal”, ucapku.
“Hati-hati bawa motornya, a, salam buat keluarga” kata a Budi.
“Hayu, atuh semuanya. Assalamu’alaikum” pamit kakaku.
“Wa’alaikumussalam” jawab kami serempak.
Dan motor Honda yang ditumpangi kakak iparku melaju meninggalkan halaman rumah dan menghilang di ujung gang.
“La, a Budi juga mau berangkat ke Bekasi. Nanti kamu ke Bekasi aja, yach...Yuk mih Inoh, uak, saya pamit” pamit a Budi.
“Hati-hati Bud, salam buat keluarga di Bekasi” ucap bibi dan uak.
Akhirnya kakak ipar yang kedua pun pamit dan langsung berangkat ke Bekasi.
Semua jadi hening setelah kepergian kedua kakak iparku, uak kembali ke rumahnya dan bibi kembali ke dapur meneruskan pekerjaannya, tinggallah aku sendiri terpaku di teras rumah. Tatapanku kosong, pikiranku melayang mengikuti asaku yang tadi baru saja diputuskan.
Dalam hati ingin menangis dan menjerit menolak keputusan ini. Tapi apa daya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mataku mulai berkaca-kaca, sedih dan kecewa, tapi harus bagaimana lagi. Akhirnya airmata ini tidak bisa ditahan lagi untuk mengalir, aku berlari ke dalam kamar, kukunci dari dalam dan tumpahlah air mataku di atas bantal tak bisa dibendung lagi. Siapa sih yang tidak sedih kalo keinginannnya untuk meraih cita-cita tidak terpenuhi. Bagaimanapun juga aku punya hati.
